Sastra Indonesia Angkatan 70-an


A. Latar Belakang Munculnya Sastra Indonesia Angkatan 70-an

Munculnya periode 70-an karena adanya pergeseran sikap berpikir dan bertindak dalam menghasilkan wawasan estetik dalam menghasilkan karya sastra bercorak baru baik di bidang puisi, prosa maupun drama. Pergeseran ini mulai kelihatan setelah gagalnya kudeta G 30 S/PKI. Abdul Hadi W.M. dan damai Toda menamai sastra Indonesia modern pada tahun 1970-an dengan sastra periode 70-an. Korrie Layuan Rampan cenderung menamai Sastra Indonesia sesudah angkatan ‘45 dengan nama angkatan ‘80. Perbedaan esensial antara kedua versi tersebut hanyalah pemberian nama saja, karena keduanya memiliki persamaan, yaitu:

1.      Keduanya tidak mengakui adanya angkatan ‘66 yang dicetuskan oleh HB. Jassin.

2.      Keduanya meyakini adanya pergeseran wawasan estetik sesudah angkatan ’45.

3.      Keduanya memiliki persamaan pandangan tentang tokoh-tokoh pembaruan Sastra Indonesia Modern sesudah angkatan ’45.

Dalam periode 70-an pengarang berusaha melakukan eksperimen untuk mencoba batas-batas beberapa kemungkinan bentuk, baik prosa, puisi, maupun drama semakin tidak jelas. Misalnya, prosa dalam bentuk cerpen, pengarang sudah berani membuat cerpen dengan panjang 1-2 kalimat saja sehingga terlihat seperti bentuk sajak. Dalam bidang drama mereka mulia menulis dan mempertunjukkan drama yang absurd atau tidak masuk akal. Sedangkan dalam bidang puisi mulai ada puisi kontemporer atau puisi selindro.

Periode 70-an telah memperlihatkan pembaharuan dalam berbagai bidang, antara lain; wawasan estetik, pandangan, sikap hidup, dan orientasi budaya. Para sastrawan tidak mengabaikan sesuatu yang bersifat tradisional bahkan berusahan untuk menjadikannya sebagai titik tolak dalam menghsilkan karya sastra modern.

Konsepsi improvisasi dalam karya sastra dipahami oleh Putu Wijaya. Ia mengatakan bahwa sebuah nobel hanyalah cerita pendek yang disambung, sehingga yang penting muncul di dalam penulisan suatu karya sastra adalah faktor ketiba-tibaan. Sebuah novel, drama, atau cerita pendek ditulis didalam dadakan-dadakan karena pada saat menulis beragai ide yang datang dimasukkan ke dalam ide pokok. Unsur tiba-tiba seperti ini yang disebut dengan uncur improvisasi.

Perkembangan sastra Indonesia periode 70-an maju pesat, karen banyak penerbitan yang muncul dan bebas menampilkan hasil karyanya dalam  berbagai bentuk. Sutardji menampilkan corak baru dalam kesussastraan Indonesia di bidang puisi. Alasan tersebut menyebaban Sutardji dianggap salah satu tokoh periode 70-an dalam sastra Indonesia. Pada tahun 1979 Sutardji menerima hadiah sastra dari ASEAN.

Sutardji Calzoum Bachri dalam puisinya cenderung membebaskan kata dalam membangkitkan kembali wawasan estetik mantra, yakni wawasan estetik yang sangat menekankan pada magic kata-kata, serta melahirkannya dalam wujud improvisasi. Hal itu nyata bila diperhatikan sikap puisinya berjudul Kredo Puisi yang ditulis di Bandung tanggal 30 Maret 1973 dan dimuat di majalah Horison bulan Desember 1974.

B. Peristiwa-Peristiwa Besar

            Pada periode ini tercatat beberapa peristiwa penting, antara lain seperti berikut ini.

1.      Pada tahun 1970, H. B. Jassin diadili. Majalah yang dipimpinnya dituduh memuat cerita pendek yang menghina agama Islam.

2.      tahun 1973, Sutarji Calzoum Bachri mengumumkan kredo puisinya. Masih pada tahun ini muncul istilah “aliran’ Rawamangun dan M. S. Hutagalung.

3.      Pada bulan September tahun 1974 diselenggarakan “pengadilan” di Bandung. Masil pada bulan Septemer diselenggarakan “Jawaban Atas Pengadilan Puisi” yang dilangsungkan di Jakarta.

4.      Pada tahun 1975 diselenggarakan Diskusi Besar Cerita Pendek Indonesia yang diadakan di Bandung.

5.      Tahun 1977 mncul istilah angkatan 70, dilontarkan oleh Dami N. Toda.

6.      Tahun 1980 novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer dilarang oleh pemerintah. Demikian pula untuk novel-novel lainnya (1985, 1987, 1988).

7.      Pada bulan Agustus tahun 1982 diadakan seminar Peranan Sastra dalam Perubahan Masyarakat yang diselenggarakan di Jakarta.

8.      Pada tahun 1984 muncul masalah “sastra kontekstual”, serta jadi topic diskusi.

Di bawah ini dibaicarakan sepintas lalu tentang beberapa peristiwa di atas.

1.      Pengadilan atas cerpen “Langit Makin Mendung

            Majalah sastra yang dipimpin oleh H. B. Jassin pada salah satu nomor penerbitnya (1968) memuat sebuah cerita pendek (bersambung) karya Kipanjikusimin (nama samaran). Edisi itu dilarang eredar dan disita oleh Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara di Medan. Isi cerita itu dituduh menghina Nabi Muhammad serta agama Islam. Maka timbul heboh, reaksi muncul dari berbagai pihak. Kipanjikusimin menyatakan mencabut cerita pendek itu (Oktober 1968), sementara H. B. Jassin diadili (1969,1970) oleh Pengadilan Negeri di Jakarta. Ia dijatuhi hukuman percobaan.

2.   Kredo Puisi Sutarji Calzoum Bachri

                        Kredo puisi itu merupakan konsep dari Sutarji Calzoum Bachri. Dimuat pertama kali dalam majalah Horison (Desember 1974). Isi selengkapnya adalah sebagai berikut.

            Kata-kata bukanlah alat pengantar pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.

Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggu mereka seperti Kamus dan penjajahan-penjajahan seperti moral kita yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.

Bila kata-kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya. Pendadakan kreatif bisa timbul, karena kata biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian tiba-tiba karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal tak terduga sebelumnya yang kreatif.

Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Karena gairahnya telah menemukan kebebasan, kata meloncat-loncat dan menari-nari diatas kertas, mabuk dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsang sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya bisa menolah dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.

Sebagai penyair saya hanya menjaga sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertian sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.

Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada umumnya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis bagi saya adalah mengembalikan kata pada mantera

                                                                     30 Maret 1973

Itulak Kredo Puisi Sutarji. Pada akhirnya ia mengatakan “Kredo saya jangan dianggapi bahwa saya menerapkan secara mutlak.” (Tirtawijaya 1983:51)

      3.   Aliran Rawamangun

                        Sebutan Aliran Rawamangun pertama kali diperkenalkan oleh M. S. Hutagalung dalam karyanya di Harian Kompas (1973) yang berjudul “Kritik Sastra Aliran Rawamangun”. Menurut Hutagalung, aliran ini “adalah prinsip yang pada dasarnya dianut oleh kami berempat, yakni: M. Saleh Saad, Lukman Ali, S. Effendi, dan saya, itupun bila saya dapat menangkap dengan baik diskusi-diskusi yang sering diadakan”.

                        Selanjutnya Hutagalung menulis, “Pusat perhatian penelitian sastra adalah karya sastra itu sendiri. Pengarang, latar belakang sosial, dan sebagainya juga penting untuk memahami sastra, tetapi janganlah sekali-kali menggeser tempat karya itu sendiri. Dalam istilah asing anggapan yang demikian disebut egosentris. Dengan perkataan yang menentang, aliran ini boleh disebut aliran strukturalisme.

                        Para penyusun aliran ini tanpa disadari punya prinsip yang bersamaan dengan aliran strukturalisme dalam bidang-bidang lingusitik, folklore, dan lain-lain. Jadi sebenarnya kurang tepat bila orang menyebut kritik mereka kritik analisis atau kritik akademis, sebab kritik aliran ini hanyalah semacam alat untuk memahami lebih jau struktur cipta sastra itu.

                        Struktur adalah organisasi menyeluruh dari cipta sastra itu yang bahu-membahu memangun imaji yang dapat menimbulkan kesan para penikmat sastra. Sejak semula pendukung aliran ini yakin bahwa keseluruhanlah yang paling penting, tetapi di samping itu juga eranggapan bahwa keseluruhan itu dibangun oleh unsure-unsur yang saling membantu dengan eratnya. Jika pada dasarnya kita harus melihat unsure tersebut fungsional dalam tugasnya membangun keseluruhan.

                        Itulah tentang Aliran Rawamangun. Istilah Aliran Rawamangun ini merupakan salah satu aliran dalam kritik sastra Indonesia.

4.      Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir

            Pengadilan puisi merupakan acara kegiatan sastra yang diadakan di Bandung pada tanggal 8 September 1974. Acara ini berlangsung seperti bermain peran. Puisi Indonesia Muktahir didili sebagai “terdakwa”. Hakim ketua Sanento Yuliman, Hakim anggota Darmanto Jt., Slamt Kirnanto, pembela Taufik Ismail, dan saksi adalah sejumlah pengarang Indonesia.

            Puisi Muktahir Indonesia diadili karena dianggap telah melakukan berbagai pelanggaran, antara lain bersikap anti inovasi serta pemandulan nilai. Berdasarkan sinyalemen di atas, jaksa mengajukan tuntutan kepada terdakwa Puisi Indonesia Mutakhir sebagai berikut.

a)                  agar para kritisi sastra Indonesia segera dipensiunkan dari jabatan mereka sebagai kritikus;

b)                  agar para editor majalah sastra dipensiunkan;

c)                  penyair-penyair mapan harus berhenti menulis;

d)                 penyair-penyair epigon harus dikarantinakan karena dianggap membahayakan bagi perkembangan puisi;

e)                  agar Majalah Horizon dan Budaya jaya dicabut surat izin ternitnya;

f)                   kepada masyarakat, dilarang membaca Majalah Horizon.

            Itulah tuntutan jaksa terhadap terdakwa. Selanjutnya dihadapan saksi-saksi, antara lain: Sutarji Calzoum Bachri, Saini K. M., Rustandi Karyakusumah. Saksi Saini K. M., menyatakan antara lain bahwa pengadilan ini tidak sah, karena puisi Indonesia masih dibawah umur.

            Setehah saksi mengemukakan kesaksiannya, maka tampillah pembela, Taufik Ismail. Ia menyatakan pembelaan sebagai berikut.

a)            Menolak tuntutan pertama (mempensiunkan kritikus) dengan alasan karena mereka  ini tidak diangkat oleh suatu lemaga pemerintah. Tuntutan ini lemah karena itu tak dapat diterima.

b)            Tututan yang menyatakan bahwa editor harus diberhentikan juga ditolak karena kurang beralasan dan lemah.

c)            Tuntutan agar penyair mapan dilarang menulis, tidak masuk akal dan mengekang hak-hak asasi manusia. Tuntutan itupun lemah.

d)           Tentang epigon-epigon yang dilarang menulis, juga tidak dapat dibenarkan sebab mereka ini pada suatu masa menemukan diri sendiri. Tuntutan ini kurang kuat.

e)            Tuntutan mengenai penyair reinkarnasi agar diasingkan atau dilarang menulis, juga melawan biologi manusia. Padahal mereka adalah pelangi-pelangi puisi Indonesia. Tuntutan itu tidak bisa diterima.

f)             Agar Majalah Horizon dan Budaya Jaya dicabut surat izin terbitnya, juga tidak dapat diterima.

g)            Melarang masyarakat untuk membaca Majalah Horizon juga tidak dapat dibenarkan.

Demikian isi singkat pembelaan Taufik Ismail terhadap terdakwa Puisi Indonesia Mutakhir.

            Akhirnya hakim Sanento Yuliman dan Darmanto Yt. Memutuskan ketujuh butir tuntutan dinyatakan ditolak, dan:

ü  para kritikus boleh kembali mengkritik kembali sebab sebentar lagi akan diadakan sekolah pendidikan kritikus;

ü  para editor majalah sastra terus melanjutkan pekerjaannya;

ü  para penyair epigon dan mapan terus menulis;

ü  majalah sastra Horizon tetap terbit, tetapi berubah nama menjadi Horizon Baru.

            Atas keputusan hakim di atas, jaksa penuntut merasa tidak puas dan menyatakan naik banding pada pengadilan puisi yang akan datang.

            Begitulah pengadilan puisi itu berlangsung. Setelah peristiwa ini, di Jakarta diadakan acaa jawaban atas pengadilan puisi, yaitu tanggal 21 September 1974, di Fakultas Sastra UI. Pembicara di dalam acara ini antara lain H. B, Jassin, M.S. Hutagalung, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Darmo.

5.   Angkatan 70

                  Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Dami N. Toda dalam kertas kerjanya “Peta-Peta Perpuisian Indonesia 1970-an dalam Sketsa” yang diajukan dalam diskusi sastra memperingati ulang tahun ke-5 Majalah Tifa Sastra di Fakultas Sastra UI (25 Mei 1977). Kertas kerja ini kemudian dimuat dalam Majalah Budaya Jaya (September 1977) dan dalam Satyagraha Hoerip (ed) Semua Masalah Sastra (1982).

                  Menurut Dami, angkatan 70 dimulai dengan novel-novel Iwan Simatupang, yang jelas punya wawasan estetika novel tersendiri; lalu teaternya Rendra serta puisinya “Khotbah” dan “Nyayian Angsa”, juga semakin nyata dalam wawasan estetika perpuisian Sutarji Calzoum Bachri, dan cerpen-cerpen dari Danarto, seperti “Godlob”, “Rintik”, dan sebagainya.

                  Pengarang yang dapat dikelompokan ke dalam akangkatan 70 adalah: Iwan Simatupang, W. S. Rendra, Sutarji Calzoum Bachri, Danarto, Budi Darma, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, dan lain-lain. Pengarang yang disebut sebagai Angkatan 70 ini ada yang sudah tergolongkan juga pada masa-masa sebelumnya. Hal inilah yang menandakan bahwa karya mereka terus berkembang.

6.   Sastra Kontekstual

                  Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Ariel Heryanto pada Saresehan Kesenian  di Solo, 28-29 Oktober 1984. Menurut Ariel, sastra kontekstual adalah sejenis pemahaman atas seluk-beluk kesusastraan dengan meninjau kaitannya dengan konteks sosial-historis kesusastraan yang bersangkutan. Bukan sejenis karya sastra.

C. Sastrawan Angkatan 70-an

1.      Putu Wijaya

            Putu Wijaya merupakan penulis yang memiliki keterampilan lengkap. Selain ia mampu menulis dengan baik di bidang prosa, ia juga mampu menulis dengan baik di bidang lainnya. Ia lahir di Tabanan Bali, tanggal 11 April 1944. menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum UGM pada tahun 1969. Pernah menjadi anggota Bengkel Teater pada tahun 1967, Teater Kecil pada tahun 1967, kemudian mendirikan dan memimpin Teater Mandiri di Jakarta. Ia juga pernah tinggal dengan masyarakat komunal di Ittoen, Jepang pada tahun 1973. Pernah mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat (1974-1975), mengikuti Festival Teater sedunia di Nancy, Prancis (1975), dan Festival Horisonte III di Berlin Barat pada tahun 1985.

Ia juga pernah menjadi redaktur Majalah Tempo (1971-1979), redaktur pelaksanaan zaman (1979-1985), dan menjadi dosen tamu pada Universitas Wisconsin, Amerika Serikat (1985-1986). Novel, drama, dan cerpennya berkali-kali memenangkan hadiah sayembara mengarang. Novelnya Telegram (1972) dianggap menampilkan corak baru dalam penulisan novel Indonesia tahun 70-an..

2.      Sutardji Calzoum Bachri

            Suterji Calzoum Bachri lahir pada tanggal 24 Juni 1941 di Rengat, Riau. Pendidikan akhirnya adalah Jurusan Administrasi Niaga, Fakultas Sosial dan Politik Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah mengikuti Program di Universitas Iowa (1974-1975). Pada tahun 1975 ia mengikuti festival Penyiar Internasional di Rotterdam. Sejak September 1979, ia menjadi redaktur Majalah Horison.

            Pada tahun 1978 Sutarji mendapat hadiah puisi dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1976-1977, untuk kumpulan puisinya Amuk (1977; tahun 1979 memperoleh hadiah sastra ASEAN. Buku-buku puisinya ialah: O” (1973), Amuk (1977), Kapak (1979). Kumpulan-kumpulan puisi ini pada tahun 1981 diterbitkan dalam satu buku berjudul O Amuk Kapa.

            Karya puisi Sutarji telah diterjemahkan ke da dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dan dikumpulkan dalam antologi Arjuna in Mediation (Calcutta India), Wtiting from the World ( Amerika Serikat),  Westerly Review (Australia). Karyanya juga dimuat dua antologi berbahasa Belanda .

3.      Arifin C. Noer

4.      Darmanto Jatman

5.      Linus Suryadi

6.      Danarto

         Danarto lahir pada tanggal 27 Juni 1940 di Mojowetan, Sragen Jawa Tengah. Ia adalah dosen di Institut Kesenian Jakarta sejak 1973. Lulusan ASRI Yogya tahun 1961 ini pernah aktif di Sanggar Bambu, Jakarta. Ia juga pernah menjadu redaktur Majalah Zaman (1979-1985). Tahun 1975 ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat, dan pada tahun 1983 ia menghadiri Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.

         Cerpennya “Rintik”, memenangkan hadiah Horison tahun 1968. Cerpen-cerpennya, termasuk “Rintik”, dihimpun dalam kumpulan cerpen berjudul Godlob (1976). Kumpulan cerpennya Adam Ma’rifat (1982), meraih hadiah sastra DKJ 1982 dan Kebudayaan (1982). Kumpulan cerpennya yang lain, Berhala (1987), memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayan tahun 1987.

7.      Iwan Simatupang

         Iwan Simatupang lahir di Sibolga, Sumatra Utara pada tanggal 18 November 1928, meninggal di Jakarta tanggal 4 gustus 1970. Berpendidikan HBS Medan, Fakultas Kedokteran di Surabaya (1953: tidak tamat), dan tahun 1954-1958 memperdalam pengetahuan di Eropa (Antropologi di Universitas Leiden, drama di Amsterdam, dan Filasfat di Universitas Sarbone Paris). Pernah menjadi komandan Pasukan TRIP di Sumatera Utara tahun  1949, guru SMA Jalan Wijayakusuma di Surabaya (1950-1953), reaktur Siasat (1954), dan terakhir menjadi redaktur Warta Harian (1966-1970).

8.      Budi Darma

         Budi Darma lahir tanggal 25 April 1937 di Rembang, Jawa Tengah. Ia adalah dosen IKIP Surabaya. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Barat. Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (1963). Pernah memperdalam pengetahuan di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat tahun 1970-1971, kemudian meraih master dari Universitas Indiana, Bloomington, Amerika Serikat tahun 1976, dan meaih gelar Ph. D., dari universitas yang sama tahun 1980. Pernah menjadi Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni IKIP Suraaya (beberapa kali), anggota Dewan Kesenian Surabaya, dan Rektor IKIP Surabaya tahun 1984-1988.

         Novel Olenka (1983), memenangkan hadiah pertama Sayembara Mengarang Roman DKJ tahun 1983. karyanya yang lain: Oramg-Orang Bloomington (1980), Soliloku (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Rafilus (1988). Tahun 1984 ia memenangkan hadia sastra ASEAN.

9.      Taufik Ismail

10.    Arsendo Atmowiloto

11.    Y.B Mangunwijaya

            Karyanya antara lain Burung-Burung Mayar. Ia mencoba mengajak kita melihat secara jernih revolusi di Indonesia.

12.    Abdul Hadi WM

13.    Emha Ainun Najib

            Lahir pada tanggal 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Memperoleh pendidikan di Pondok Pesantren Gontor, SMA Yogya, dan Fakultas Ekonomi UGM (hanya sebentar). Pernah menyadi redaktur Harian Masa Kini, Yogya (1973-1976), kemudian memimpin Teater Diansti, Yogya. Pernah mengikiuti loka karya teater Peta, Filifina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat (1981). Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984), dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985).

14.    Korrie Layun Rampan

15.    Umar Kayam

            Karya-karyanya seperti: Bauk, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Musim Gugur Kembali di Connecticut, Mangan Ora Mangan Ngumpul, dan masih banyak yang lain.

16.    Kuntowijoyo

            Karyanya antara lain di Atas Bukit. Novel ini bertemkan kegelisahan batin akibat batin kondisi sosial. Ia mengajak pembaca untuk merenungkan kehidupan ini. Kuntowijoyo banyak mengguanakan kata-kata mutiara sebagai pengungkap renungan hidup.

17.    Remy Sylado

D.  Jenis Karya Sastra Angkatan 70-an

1. Puisi

Struktur Fisik

a)Puisi begaya bahasa mantera menggunakan sarana kepuitisan berupa ulangan kata, frasa, atau kalimat. Gaya bahasa paralelisme dikombinasikan dengan gaya hiperbola untuk memperoleh efek yang sebesar-besarnya, serta menonjolkan tipografi.

b)      Puisi konkret sebagai eksperimen.

c)Banyak menggunakan kata-kata daerah untuk memberikan kesan ekspresif.

d)     Banyak menggunakan permainan bunyi.

e)Gaya penulian yang prosaik.

f)    Menggunakan kata yang sebelumnya tabu.

Struktur Tematik

a)protes terhadap kepincangan masyarakat pada awal industrialisasi;

b)      kesadaran bahwa aspek manusia merupakan subjek dan bukan objek pembangunan;

c)banyak mengungkapkan kehidupan batin religius dan cenderung mistis.

d)     cerita dan pelukisnya bersifat alegoris atau parable;

e)perjuangan hak-hak azasi manusia; kebebasan, persamaan, pemerataan, dan terhindar dari pencemaran teknologi modern;

f)    kritik sosial terhadap si kuat yang bertindak sewenang-wenang terhadap mereka yang lemah, dan kritik tentang penyelewengan.

2. Prosa dan Drama

Struktur Fisik

a)melepaskan ciri konvensional, menggunakan pola sastra “asurd” dalam tema, alur, tokoh, maupun latar;

b)      menampakkan ciri latar kedaerahan“warna lokal”.

Struktur Tematik

a)sosial: politik, kemiskinan, dan lain-lain;

b)      kejiwaan;

c)metafisik.


E. Karya Sastra Angkatan 70-an

1.      Putu Wijaya

a)      Orang-orang Mandiri (drama);

b)      Lautan Bernyanyi (drama);

         c)      Telegram (novel);

         d)      Aduh (drama);

         e)      Pabrik (novel);

         f)       Stasiun (novel);

         g)      Hah (novel);

         h)      Keok (novel);

         i)       Anu (drama);

         j)       MS (novel);

         k)      Sobat (novel);

         l)       Tak Cukup Sedih (novel);

         m)     Dadaku adalah perisaiku (kumupulan sajak);

n)      Ratu (novel);

o)      Edan (novel);

p)      Bom (kumpulan cerpen).

2.      Iwan Simatupang

a)      Merahnya Merah (roman);

b)      Kering (roman);

c)      Ziarah (roman);

d)      Kooong (roman);

3.      Danarto

a)      Godolb (kumpulan cerpen);

b)      Obrok owok-owok, Ebrek ewek-ewek (drama);

c)      Adam ma’rifat (kumpulan cerpen);

d)      Berhala;

e)      Orang Jawa Naik Haji (1984);

f)      Bel Geduwel Beh (1976).

4.      Budi Darma

a)      Solilokui (kumpulan essai);

b)      Olenka (novel);

c)      Orang-orang Bloomington (kumpulan cerpen);

5.      Sutardji Calzoum Bachri

a)      O (kumpulan sajak);

b)      Amuk ( kumpulan sajak);

c)      Kapak (kumpulan sajak).

6.      Arifin C. Noer

a)      Kapai-kapai (drama);

b)      Kasir Kita (drama satu babak);

c)      Orkes Madun (drama);

d)      Selamat Pagi, Jajang (kumpulan sajak);

e)      Sumur tanpa dasar (drama);

f)      Tengul (drama).

7.      Darmanto Jatman

a)      Sajak-sajak Putih (kumpulan sajak);

b)      Dalam Kejaran Waktu (novel);

c)      Bangsat (kumpulan sajak);

d)      Sang Darmanto (kumpulan sajak);

e)      Ki Balaka Suta (kumpulan sajak).

8.      Linus Suryadi

a)      Langit Kelabu (kumpulan sajak);

b)      Pengakuan Pariyem (novel);

c)      Syair-syair dari Jogja (kumpulan sajak);

d)      Perang Troya (cerita anak);

e)      Dari Desa ke Kota (kumpulan essai);

f)       Perkutut Manggung (kumpulan sajak);

g)      Gerhana Bulan (kumpulan sajak).

9.  Taufik Ismail

a)      Puisi-puisi Sepi (kumpulan sajak);

b)      Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (kumpulan sajak);

c)      Sajak Ladang Jagung (kumpulan sajak).

10.  Arsendo Atmowiloto

a)      Lawan Jadi Kawan (cerita anak);

b)      Bayang-bayang Baur (novel);

c)      Teu Cireus (novel);

d)      Surat dengan Sampul Putih (kumpulan cerpen);

e)      Saat Kau Berbaring di dadaku (novel);

f)        2 x cinta.

11.  Y.B Mangunwijaya

a)      Teknologi dan Dampak Kebudayaannya (essai);

b)      Sastra dan Religiusitas (kumpulan essai);

c)      Roro Mendut (roman);

d)      Puntung Roro Mendut (roman);

e)      Ragawirdya (novel);

f)        Fisika Bangunan (buku teks);

g)      Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (novel).

12.  Abdul Hadi WM

a)      Laut Belum Pasang (kumpulan sajak);

b)      Cermin (kumpulan sajak);

c)      Potret Seorang Pengunjung Pantai Sanur (kumpulan sajak);

d)      Meditasi (kumpulan sajak);

e)      Tergantung pada Angin (kumpulan sajak);

f)       Manusia dalam Sastra Indonesia Muttakhir (kumpulan essai);

g)      Zaman Edan dan Sastra Frustasi (kumpulan essai).

13.  Emha Ainun Najib

a)      Frustasi (kumpulan sajak);

b)      Sajak-sajak Sepanjang Jalan (kumpulan sajak);

c)      Mabang;

d)      Tangis;

e)      Lingkaran Dinding;

f)       Kepala Kampung;

g)      Seorang Gelandangan;

h)      Mimpi Setiap Orang;

i)       Mimpi Istriku;

j)        99 untuk Tuhanku (sajak);

k)      Di Belakangku.

14.  Korrie Layun Rampan

a)      Matahari pinsan di ubun-ubun (kumpulan sajak);

b)      Cermin Sang Waktu (kumpulan sajak bersama Gunoto Saparie);

c)      Saan (kumpulan sajak);

d)      Malam Putih (kumpulan sajak);

e)      Upacara (novel);

f)      Kekasih (kumpulan cerpen);

g)      Suara Kesunyian (kumpulan sajak).

15.  Umar Kayam

a)      Seribu Kunang-kunang di Matahari (kumpulan cerpen);

b)      Sri Sumarah dan Bawuk (kumpulan cerpen);

c)      Totok dan Toni (cerita anak-anak);

d)      Seni, Tradisi, Masyarakat (kumpulan essai);

e)      Para Priyayi (novel);

f)             Lebaran di Karet, di Karet - (kumpulan cerita pendek);

g)            Pada Suatu Saat di Bandar Sangging;

h)            Kelir Tanpa Batas;

i)              Jalan Menikung.

16.  Remy Sylado

a)      Gali Lobang Gila Lobang (roman);

b)      Kita Hidup Hanya Sekali (roman);

c)      Belajar Menghargai Hak asasi Kawan (sajak).

17.   WS. Rendra

a)      SLA (drama terjemahan);

b)      Informan ( drama terjemahan);

c)      Blues untuk Bonnie (kumpulan sajak);

d)      Sajak-sajak Sepatu Tua (kumpulan sajak);

e)      Oidipus Sang Budha (drama terjemahan);

f)       Antigone (drama);

g)      Potret Pembangunan dalam Puisi (kumpulan sajak).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

chairul mustofa mengatakan...

bagaimana mendesain blog hingga sedemikian rupa?
tolong bantu dan kasih petunjuknya ya!

terimakasih

Poskan Komentar